Tugu Mataram Di Cawas Bisa Jadi Destinasi Pariwisata Sejarah Kabupaten Klaten

Tugu Mataram Di Cawas Bisa Jadi Destinasi Pariwisata Sejarah Kabupaten Klaten


Tugu Mataram Di Cawas Bisa Jadi Destinasi Pariwisata Sejarah Kabupaten Klaten

Cawas – Tugu Mataram kuno berbentuk sepasang gapura, sebagai  warisan sejarah pasca perjanjian Giyanti yang hingga saat ini masih kokoh berdiri ini merupakan tanda batas wilayah kasunanan Surakarta dengan kasultanan Ngayogyakarta. Ada dua buah tugu, satu  berada di padukuhan Betro, desa Burikan, kecamatan Cawas, kabupaten Klaten posisinya di sebelah utara jalan adalah milik kasunanan Surakarta (bercat putih biru ), sedangkan satu tugu yang lain berada di selatan jalan tepatnya di padukuhan Mundon, desa Tancep, kecamatan Ngawen, kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta adalah milik kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat (tidak dicat).
Tugu batas milik kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat dibangun pada tanggal 29 Djoemadilawal 1867, sedangkan milik kasunanan Surakarta tanggal 22 Redjeb,Alib 1867. 

Bangunan tugu dibuat dari bahan semen, sedangkan prasasti  yang bertuliskan tanggal pembanguannnya serta symbol pura Mangkunegaran Solo dan kraton Yogya dibuat dari plat besi dengan ukiran indah, walaupun tampak berkarat dimakan usia. Tinggi bangunan sekitar  3,5 meter dengan lebar sekitar 4 meter, jarak antara kedua tugu  sekitar 15 meter. Menurut sesepuh desa yang bermukim tidak jauh dari tugu tersebut Sirngadi  (75 tahun), mengatakan bahwa ketika ia kecil sepasang tugu berbentuk gapura dengan bentuk sama tersebut sudah berdiri. 

Kalau di baca tanggal dan tahun pembangunannya berupa  tahun jawa, keduanya dibuat pada tahun yang sama yakni 1867. Untuk catatan bulan  tugu Jogja dibuat 2 bulan lebih dahulu (Djoemadilawal tanggal 29) dibanding milik Solo, yakni  bulan Redjeb tanggal 22. Mengenai umur tugu, bedasar tahun jawa  saat ini tahun 1946, sehingga diketahui bahwa kedua tugu batas tersebut dibuat  kira-kira 79 tahun yang lalu, demikian tambah Sirngadi.



Mengenai keamanan aksesoris tugu yang  berada di bulak tersebut memang rawan pencurian. Seperti dituturkan Sukardi tokoh desa setempat  beberapa tahun yang lalu logo kraton Mangkunegaran dicuri orang tak dikenal pada saat malam hari, tetapi anehnya setelah berjalan kira-kira 50 meter kearah barat kendaraan maling tersebut macet, akhirnya symbol pura mangkunegaran tersebut dikembalikan dan kendaraannya bisa jalan. Kemudian oleh masyarakat logo tersebut dipasang kembali, sehingga sekarang terlihat hasil pemasangannya tidak serapi aslinya.

Tugu yang sering disebut sebagai  “Tugu Mataram” ini dapat menjadi saksi sejarah, dipecahnya bumi Mataram menjadi dua bagian dimasa perjanjian Giyanti, yakni Kasultanan Ngayogyakarta dan Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Warisan budaya ini perlu dilestarikan agar generasi mendatang masih dapat menemukan artefak  sejarah  ketika negeri ini masih berbentuk kerajaan.

Pemerintah kabupaten Klaten dapat menjadikan tugu Mataram ini sebagai situs warisan budaya dan sebagai destinasi pariwisata  sejarah yang dikemas dalam suatu  paket obyek lain di Klaten. Barangkali masih banyak warga masyarakat Klaten yang belum tahu dan melihat dari dekat keelokan tugu  Mataram yang bersejarah ini.

Keistimewaan Yogya : Garis Lurus dari Merapi sampai Laut Selatan

 

Kita semua pasti tahu kalau Yogyakarta itu terkenal sebagai Kota Pelajar, Kota Kebudayaan, ataupun Kota Gudeg dengan Sri Sultan HB X sebagai Kepala Pemerintahan dan sekaligus sebagai Raja Yogyakarta. Jogja dengan berbagai mitos yang dipercaya oleh masyarakat seperti Nyi Roro Kidul sebagai Ratu Pantai Selatan ataupun Ki Sapu Jagad Sang Penjaga Gunung Merapi.

Sebenarnya masih ada 1 lagi mitos Jogjakarta yang hampir terlupakan. Yang dimaksud disini adalah GARIS LURUS yang MEMBENTANG dari UJUNG UTARA hingga SELATAN YOGYAKARTA. Konon kabarnya, dalam mitos yang selama ini diyakini, ada hubungan antara Merapi, Keraton Yogyakarta dan Laut Selatan. Selain itu, garis lurus ini juga menggambarkan bahwa Gunung Merapi sebagai batas utara Yogyakarta, Pantai Selatan sebagai batas selatannya dan dengan Kraton sebagai Poros atau Pengaturnya.

Yang mendasari terbentuknya garis ini sebenarnya bukan hanya 3-4 tempat tersebut. Untuk lebih detailnya, berikut diulas satu persatu, dari ujung utara sampai selatan :

1. Gunung Merapi

Keistimewaan Yogya : Garis Lurus dari Merapi sampai Laut Selatan

Gunung Merapi sebagai batas utara Yogyakarta dan disinilah garis lurus itu dimulai.

2. Tugu Yogyakarta

Keistimewaan Yogya : Garis Lurus dari Merapi sampai Laut Selatan

Tugu golong gilig atau tugu pal putih (white paal) merupakan penanda batas utara kota tua Yogyakarta. Semula bangunan ini berbentuk seperti tongkat bulat (gilig) dengan sebuah bola (golong) diatasnya. Bangunan ini mengingatkan pada Washington Monument di Washington DC. Pada tahun 1867 bangunan ini rusak (patah) karena gempa bumi yang juga merusakkan situs Taman Sari. Pada masa pemerintahan Sultan HB VII bangunan ini didirikan kembali.

Namun sayangnya dengan bentuk berbeda seperti yang dapat disaksikan sekarang. Ketinggiannya pun dikurangi dan hanya sepertiga tinggi bangunan aslinya. Lama-kelamaan nama tugu golong gilig dan tugu pal putih semakin dilupakan seiring penyebutan bangunan ini sebagai Tugu Yogyakarta.

3. Malioboro

Keistimewaan Yogya : Garis Lurus dari Merapi sampai Laut Selatan

Malioboro adalah suatu pusat perbelanjaan yang sejajar dengan jalan lurus dari Tugu jogja menuju Kraton.

4. Alun-Alun Utara

Keistimewaan Yogya : Garis Lurus dari Merapi sampai Laut Selatan

Selain berfungsi sebagai media pertemuan Sultan dengan Rakyatnya, di Alun2 Utara juga terdapat pohon beringin (Ficus benjamina; famili Moraceae) yang berjumlah 64 (termasuk dua ringin kurung) yang melambangkan usia Nabi Muhammad. Dua pohon beringin di tengah Alun-alun Utara menjadi lambang makrokosmos (K. Dewodaru, dewo=Tuhan) dan mikrokosmos (K. Janadaru, jana=manusia).


5. Keraton Yogyakarta

Keistimewaan Yogya : Garis Lurus dari Merapi sampai Laut Selatan

Keraton Yogyakarta atau dalam bahasa aslinya Karaton Kasultanan Ngayogyakarta merupakan tempat tinggal resmi para Sultan yang bertahta di Kesultanan Yogyakarta. Keraton artinya tempat dimana ‘Ratu’ (bahasa Jawa yang dalam bahasa Indonesia berarti Raja) bersemayam.

Keraton Yogyakarta tidak didirikan begitu saja. Banyak arti dan makna filosofis yang terdapat di seputar dan sekitar keraton. Selain itu istana Sultan Yogyakarta ini juga diselubungi oleh mitos dan mistik yang begitu kental. Filosofi dan mitologi tersebut tidak dapat dipisahkan dan merupakan dua sisi dari sebuah mata uang yang bernama keraton.

6. Plengkung Gading

Keistimewaan Yogya : Garis Lurus dari Merapi sampai Laut Selatan

Plengkung Gading yang bernama asli Plengkung Nirboyo merupakan pintu selatan dari komplek Kraton Yogyakarta.

7. Panggung Krapyak

Keistimewaan Yogya : Garis Lurus dari Merapi sampai Laut Selatan

Panggung krapyak atau sering disebut Kandhang Menjangan dibangun oleh Sultan HB I dan saat ini merupakan benda cagar budaya. Gedhong panggung, demikian disebut, merupakan sebuah podium dari batu bata dengan tinggi 4 m, lebar 5 m, dan panjang 6 m. Tebal dindingnya mencapai 1 m. Bangunan ini memiliki 4 pintu luar, 8 jendela luar, serta 8 pintu di bagian dalam.

Atap bangunan dibuat datar dengan pagar pembatas di bagian tepinya. Untuk mencapainya tersedia tangga dari kayu di bagian barat laut. Bangunan bertingkat ini disekat menjadi 4 buah ruang. Dahulu tempat ini digunakan sebagai lokasi berburu menjangan oleh keluarga kerajaan.

8. Pantai Selatan (Cepuri)

Keistimewaan Yogya : Garis Lurus dari Merapi sampai Laut Selatan

Pantai selatan dengan mitosnya Nyi Roro Kidul memang sudah terkenal. Sedangkan Cepuri, yaitu tempat Upacara Labuhan Pantai Selatan yang terletak di Pantai Parangkusumo atau sebelah barat Parangtritis. Dan disinilah garis itu diakhiri.

Keistimewaan Yogya : Garis Lurus dari Merapi sampai Laut Selatan

Dan inilah Garis Lurusnya…!!!!!!

Keistimewaan Yogya : Garis Lurus dari Merapi sampai Laut Selatan

 

Legenda Merapi, Kekuatan Penting Untuk Keraton Jogja

 Eksistensi Gunung Merapi bagi masyarakat Yogyakarta tidak lepas dari adanya mitos terdapat hubungan khusus antara "penunggu" Merapi dengan lingkungan Kraton Yogyakarta. Kondisi ini diperkuat dengan adanya utusan dari Kraton Yogyakarta untuk menjadi juru kunci (kuncen) Merapi.

Juru kunci yang dimaksud adalah Mas Penewu Surakso Hargo atau yang lebih dikenal dengan Mbah Maridjan. Kini sang kuncen telah tiada sejak ditemukan dalam kondisi meninggal di salah satu sudut ruangannya yang porak-poranda. Gunung Merapi telah ditinggalkan sang kuncen yang selama 30 tahun telah menemaninya. Lalu seberapa penting arti juru kunci di gunung berapi paling aktif ini?

Tugas mendiang Mbah Marijan adalah sebagai pemimpin atau pemuka dalam ritual-ritual seputar gunung merapi, ritual itu ditujukan untuk membuat keseimbangan antara kerajaan jawa & kekuatan besar kerajaan ghaib di Gunung Merapi, jadi mendiang Mbah Marijan sama juga seperti mediator dari kerajaan jawa. Ritual yang dimaksud adalah Upacara Selamatan Labuhan yang diadakan secara rutin setiap tahun pada tanggal kelahiran Sri Sultan Hamengku Buwono X yakni tanggal 30 Rajab. Upacara dipusatkan di dusun Kinahrejo desa Umbulharjo.

Selain itu juru kunci memberi arti yang sangat penting bagi para pendaki Gunung Merapi. Kuncen biasanya memberitahukan apa yang saja pantangan saat mendaki, jalur pendakian dan jalur penyelamatan serta memberi informasi kepada penduduk sekitar jika ada aktifitas Gunung Merapi yang dirasa membahayakan.

Keberadaan juru kunci Gunung Merapi penting karena keraton Yogyakarta dibangun atas 2 astral yaitu Gunung Merapi dan Pantai Laut Selatan. Menurut legenda pada jaman dahulu ada orang bernama Sutowijaya yang diberi tanah oleh Sultan Demak, maka berangkatlah Sutowijaya ke tanah yang dimaksud. Saat sedang membangun, banyak korban yang terjadi, salah satunya ada pekerja yang mati sehabis memotong pohon. Sutowijaya menjadi putus asa sehingga ia bertapa di sebuah gua.

Saat itulah, Sutowijaya dilihat oleh Nyi Roro Kidul. Lalu, Nyi Roro Kidul menggodanya dengan wujud naga dengan api yang panas, tapi Sutowijaya tidak tergoyahkan. Nyi Roro Kidul lalu menjelma menjadi wanita cantik tanpa busana. Saat itu Sutowijaya sudah mulai tergoyahkan namun, tetap bertahan. Lalu Nyi Roro Kidul kembali ke wujud asalnya dan bertanyalah Nyi Roro Kidul apa yang diminta oleh Sutowijaya. Sehabis Sutowijaya menjelaskan maka Nyi Roro Kidul menyanggupi untuk mengusir penunggu di tanah kerajaan Sutowijaya ( yang merupakan anak buah Nyi Roro Kidul ), tapi dengan syarat Sutowijaya harus menikahi Nyi Roro Kidul, dan semua Raja Mataram harus menikah dengan Nyi Roro Kidul juga.

Sutowijaya setuju, lalu gua tersebut berubah menjadi satu istana yang megah lengkap dengan kamar pengantinnya. Sutowijaya bertanya kepada Nyi Roro Kidul kemanakah perginya penunggu itu. Nyi Roro Kidul menjawab ada di gunung sekitar Yogjakarta. maka Sutowijaya menyuruh bawahannya untuk bertugas sebagai juru kunci di gunung sekitar Yogjakarta. Sutowijaya juga meminta agar Kraton Yogyakarta dilindungi. Itupun juga disanggupi oleh Nyi Roro Kidul. Jadi tugas juru kunci adalah sebagai pengawas anak buahnya Nyi Roro Kidul agar raja mengetahui jika terjadi masalah di Gunung Merapi.

Pesanggrahan Warung Boto Abad ke 19


Bukti bahwa bangunan tersebut bersejarah adalah termuatnya nama bangunan dalam sebuah tembang macapat yang berkisah tentang Hamengku Buwono II. Dalam tembang tersebut, bangunan ini tidak disebut dengan nama Pesanggrahan Warungboto sebagaimana banyak orang menyebutnya sekarang, tetapi dengan nama Pesanggrahan Rejowinangun. Secara keseluruhan, tembang macapat itu sendiri bercerita tentang kemajuan yang dicapai semasa Hamengku Buwono II




Mengunjungi pesanggrahan ini bagi beberapa orang mungkin dianggap membosankan, sebab tak ada lagi kemegahan yang bisa dinikmati. Namun, bukankah wisata tak harus mengunjungi tempat-tempat megah? Tempat-tempat sederhana, bahkan yang tinggal puing pun, pasti memiliki daya tarik. YogYES yang mengunjungi tempat ini beberapa hari lalu masih bisa menemukan keindahan di beberapa sudut meski banyak bagian bangunan yang telah mengalami kerusakan.
Kami mulai menjelajahi bangunan mulai dari bagian terdepan atau yang berbatasan langsung dengan jalan raya. Bagian terdepan ini berbentuk bujur sangkar dengan lantai yang terbuat dari bahan semacam semen. Karena terletak di depan, mungkin bagian ini berfungsi sebagai bangsal atau lobby seperti pada banyak bangunan yang ada sekarang. Dari bagian terdepan, bisa dilihat pemandangan seluruh kompleks pesanggrahan.




Di sebelah kiri bagian terdepan terdapat tangga turun yang cukup sempit. Kami langsung bisa menduga bahwa bangunan pesanggrahan ini mulanya terdiri dari dua lantai, seperti bangunan pesanggrahan lainnya yang terdiri dari lantai dasar dan bawah tanah. Untuk menuruninya perlu hati-hati, sebab bagian kanan kirinya tidak memiliki pegangan dan banyak bagian yang telah ditumbuhi lumut sehingga licin.



Di lantai bawah tanah inilah, banyak bagian bangunan yang mempesona bisa dilihat. Bagian yang paling indah adalah areal taman yang dilengkapi dengan dua buah kolam. Kolam pertama berbentuk lingkaran berdiameter 4,5 meter dan bagian tengahnya memiliki sumber pancuran air atau umbul. Sementara, kolam kedua berbentuk bujur sangkar dengan ukuran sisi 10 meter x 4 meter. Kedua kolam itu saling berhubungan, ditandai dengan adanya lubang saluran air yang bisa dilihat jelas dari kolam kedua.



Kami sungguh merasa kagum dengan arsitektur bangunan pesanggrahan ketika berada di areal taman ini. Bagaimana tidak, pesanggrahan yang dibangun tahun 1800-an ini sudah merancang adanya taman beserta kolam yang sifatnya pribadi, dikelilingi oleh bangunan sekitarnya sehingga tak terlihat dari luar. Selain itu, tembok-tembok yang mengelilinginya juga tampak tinggi dan tebal, menandakan kekokohan bangunannya di masa lalu.



Di sebelah utara dan selatan kolam terdapat pintu bertinggi sedang yang cukup lebar. Pintu itu menghubungkan dengan bagian lain ruangan bawah tanah. Di bagian timur kolam akan dijumpai jendela-jendela berjumlah tiga buah, satu berbentuk kotak dan dua lainnya berbentuk lengkung pada bagian atasnya.. Sementara di bagian barat kolam terdapat satu pintu yang bagian atasnya melengkung, menghgubungkan dengan dua pintu lengkung berikutnya yang dilengkapi dengan beberapa anak tangga. 



Dua pintu terakhir menghubungkan areal taman yang berada di bawah tanah dengan lantai dasar. Kalau kembali ke lantai dasar dan menjelajahi sisi selatan bangunan, akan dijumpai beberapa puing tembok. Kemungkinan, tembok itu merupakan pembatas antar ruang pesanggrahan. Terdapat bagian tembok yang unik, sebab permukaannya tidak halus, mungkin dulu memiliki ornamen. Satu tembok yang masih sangat kokoh berada di bagian paling depan sisi selatan. Pada tembok itu, terdapat beberapa jendela berbentuk persegi.
Sebenarnya, saat didata oleh Dinas Purbakala pada tahun 1980, masih ada beberapa hiasan yang bisa dijumpai. Diantaranya berupa patung burung garuda yang ada di sisi selatan, patung naga yang ada di sisi timur dan pot bunga yang merupakan salah satu komponen dari kolam.

Pawiwahan Agung Keraton Yogyakarta


Pada tahun ini keraton Ngayogyakarta Hadiningrat menyelenggarakan pesta besar yaitu Pawiwahan Ageng Pernikahan  GKR Bendara & KPH Yudanegara.

Rangkaian acara Pawiwahan Agung Putri bungsu Sultan Hamengku Buwono X berlangsung selama 4 (empat) hari mulai hari yaitu Minggu 16 Oktober sampai Rabu 19 Oktober 2011. Perhelatan ini merupakan kekayaan warisan budaya Indonesia yang sangat tinggi, tidak kalah dengan negara-negara lain yang disebut masyarakat yogya disebut dengan pesta budaya/pesta rakyat.

Pawiwahan Agung Keraton Yogykarta dilaksanakan sebagaiupaya memelihara tradisi dan adat budaya Jawa. Keraton adalah pusat pakem-nya tradisi, yang harus dipertahankan sampai kapanpun. Karena itu pakem dalam ritual pernikahan raja-raja Keraton Yogyakarta sejak ratusan tahun lalu, selalu sama. Hanya hajatan pernikahan yang dulunya berlangsung 40 hari 40 malam, sekarang dipersingkat menjadi 4 hari 4 malam.

 Pengantin Keraton Jogja zaman dahulu.

Prosesi Pernikahan Agung Keraton Yogyakarta :

A. Plangkah: 
Karena calon mempelai wanita mendahului kakaknya, sesuai adat Jawa ia harus meminta izin dari sang kakak untuk menikah terlebih dahulu dengan memberikan seperangkat pakaian lengkap, dan memenuhi permintaan khusus sang kakak yang belum menikah.
Plangkah

B. Nyantri
Upacara nyantri ini dilaksanakan pada tanggal 16 Oktober 2011,yaitu : Upacara bagi calon pengantin pria untuk lebih mengenal dari awal hingga selesainya prosesi pernikahan. Calon pengantin pria akan mendapatkan keterangan mengenai prosesi upacara pernikahan apa saja yang akan dilakukan, bertempat di Bangsal Kasatriyan. Di saat yang sama calon pengantin putri berada di Keputren.
Nyantri



C. Siraman
Upadara Siraman dilaksanakan pada 17 Oktober: Siraman calon pengantin pria, Kanjeng Pangeran Haryo(KPH) Yudanegara dilakukan di Bangsal Kasatriyan. Sedangkan siraman calon pengantin putri, Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Bendara di Bangsal Sekar Kedaton, Keputren.

 Siraman

D. Tantingan 
Upacara yang dilaksanakan tanggal 17 Oktober sore di Bangsal Proyekso: Kemantapan hati calon mempelai wanita di tanting oleh sang ayah Raja Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X.

E. Midodareni 
Upacara ini di adakan pada 17 Oktober malam : Upacara ini sebagai simbol orang-orang jawa dengan harapan Agar para bidadari datang memberikan restu ,kecantikan dan keindahannya kepada kedua mempelai.


F. Ijab khobul  
Prosesi Ijab Khobul dilaksanakan di Masjid Panepen : Mempelai pria mengucapkan ijab kabul dalam bahasa Jawa, padahal pengantin pria berasal dari Lampung.
G. Panggih
Upacara Panggih atau disebut juga perjamuan di laksanakan 18 Oktober pagi di Bangsal Kencono: Sekitar 1.500 undangan VVIP termasuk Presiden SBY dan Wapres Boediono. Panggih adalah momen dimana kedua mempelai pertama kali bertemu setelah sekian lama dipingit.
H. Upacara Panggih
Rangkaian upacara panggih, mempelai melalui serangkaian tata cara yang kaya makna, yaitu : Saling melempar buntal suruh,

Mempelai wanita mencuci kaki mempelai pria sebagai simbol pengabdian,

I. Upacara pondongan.
 Pondongan
Sebelum memasuki upacara panggih, mempelai disambut tarian edan-adanan, yaitu tradisi membuka jalan bagi pengantin, dan untuk menolak bala.
  Tari Edan-edanan
J. Kirab pengantin 
Kirab pengantin di laksanakan pada 18 Oktober sore: Mempelai diarak menggunakan 5 kereta kencana salah satunya Kereta Kyai Jong Wiyat, dari Keraton menuju bangsal Kepatihan di Jalan Malioboro. Kereta kencana ini buatan tahun 1881 di Belanda, berbentuk terbuka sehingga kedua pengantin bisa dilihat langsung oleh khalayak.

Dalam kirab ini kedua pengantin mendapatkan sambutan yang luar biasa dari puluhan ribu masyarakat yogyakarta yang memadati sepanjang jalan Malioboro, masyarakat yang sangat ingin menyaksikan  Putri Rajanya yang di arak sepanjang Jalan Malioboro.
Menaiki kereta kencana menjelang kirab

Kirab melewati alun2 utara
Kirab melewati Pasar Beringharjo


K. Upacara Pamitan 
Upacara pamitan ini di laksanakan pada 19 Oktober dimana KPH Yudanegara minta restu kepada orangtua pengantin putri, Sri Sultan HB X serta Permaisuri GKR Hemas, untuk memulai hidup berkeluarga baru.

Untuk acara Pernikahan Agung ini, Keraton Yogyakarta memesan ribuan paket hidangan untuk tamu undangan. Antara lain 5.000 paket bakpia Pia Djogdja sebagai official snack.
Tim perias pengantin tradisional yang dipercaya pihak Keraton Yogyakarta adalah Tienuk Riefki. Melibatkan 18 perias terdiri dari 14 perias perempuan dan 4 periaspria. Selain tes make up, perias juga mengajari lampah dodok (berjalan jongkok) kepada calon mempelai pria. Sebelum menjalankan proses merias, para perias khususnya Tienuk menjalani puasa sejak awal Oktober lalu.

Banyaknya tamu yang hadir menyaksikan upacara pernikahan agung Keraton Yogyakarta, membuat kamar hotel berbintang di Yogyakarta habis dipesan dan tingkat hunian mencapai sekitar 90 persen.

Lebih dari 200 wartawan media dalam dan luar negeri meliput acara pernikahan agung. Mereka diwajibkan mengenakan busana adat, dantidak boleh mengenakan alas kaki.

Sepanjang Malioboro ditutup, karena 200 makanan angkringan memenuhi jalan utama ini. Angkringan tersebut merupakan sumbangan suka rela dari berbagai perusahaan swasta, perguruan tinggi, organisasi profesi, komunitashobi, komunitas sosial, dan individu sebagai bentuk LOYALITAS rakyat Yogyakarta kepada Sang Raja Sri Sultan Hamengkubuwono, hal ini tidak pernah kita jumpai pada pernikahan pejabat manapun di negara indonesia termasuk pada perbikahan Putra/Putri Presiden pun. yang mana memperlihatkan ke istimewaan Yogyakarta yang benar-benar tulus mengakui kepemimpinan dan keberadaan Keraton Yogyakarta sebagai milik bersama rakyat Yogyakarta.
Selain itu juga terdapat 100 buah penjor janur (janur kuning) hasil kreasi sumbangan masyarakat yogyakarta terhadap Sultan Hamengkubuwono yang  menyemarakkan jalan sepanjang Malioboro. Inilah bagian dari tradisi rakyat Jogja yaitu tanda suka cinta rakyat Yogyakarta terhadap keluarga Sultan Hamengku Buwono X yang mereka cintai.



Panggung Krapyak - Tempat Raja Berburu


Alkisah wilayah Krapyak, yang kini berada di selatan Kraton Yogyakarta, dahulu merupakan hutan lebat. Beragam jenis hewan liar terdapat di sini, salah satunya rusa atau dalam bahasa Jawa disebut menjangan. Tak heran bila wilayah ini dulu banyak digunakan sebagai tempat berburu oleh Raja-Raja Mataram.

Raden Mas Jolang yang bergelar Prabu Hanyokrowati, raja kedua Kerajaan Mataram Islam dan putra Panembahan Senopati, adalah salah satu raja yang memanfaatkan Hutan Krapyak sebagai tempat berburu. Pada tahun 1613, beliau mengalami kecelakaan dalam perburuan dan akhirnya meninggal di sini. Beliau dimakamkan di Kotagede dan diberi gelar Panembahan Seda Krapyak (berarti raja yang meninggal di Hutan Krapyak).



Raja lain yang gemar berburu di Hutan Krapyak adalah Pangeran Mangkubumi (Sultan Hamengku Buwono I). Beliau-lah yang mendirikan Panggung Krapyak lebih dari 140 tahun setelah wafatnya Prabu Hanyokrowati di hutan ini. Panggung Krapyak merupakan petunjuk sejarah bahwa wilayah Krapyak pernah dijadikan sebagai area berburu. Bila berminat, anda bisa mendatanginya dengan melaju ke selatan dari Alun-Alun Kidul, melewati Plengkung Gading dan Jalan D.I Panjaitan. Panggung Krapyak akan ditemukan setelah melaju kurang lebih 3 kilometer, berada tepat di tengah jalan.
 
Bangunan Panggung Krapyak berbentuk persegi empat seluas 17,6 m x 15 m. Dindingnya terbuat dari bata merah yang dilapisi semen cor dan disusun ke atas setinggi 10 m. Bagian dinding kini tampak berwarna hitam, menunjukkan usianya yang hampir menyamai usia Kota Yogyakarta, seperempat milenium. Bangunan tampak masih kokoh, walau beberapa bagian mengalami kerusakan akibat gempa 27 Mei 2006 lalu.

Arsitektur bangunan panggung ini cukup unik. Setiap sisi bangunan memiliki sebuah pintu dan dua buah jendela. Pintu dan jendela itu hanya berupa sebuah lubang, tanpa penutup. Bagian bawah pintu dan jendela berbentuk persegi tetapi bagian atasnya melengkung, seperti rancangan pintu dan jendela di masjid-masijd.




Bangunan panggung terbagi menjadi dua lantai. Lantai pertama memiliki 4 ruang dan lorong pendek yang menghubungkan pintu dari setiap sisi. Kalau matahari bersinar terang, cahayanya akan menembus ke dalam lantai pertama bangunan lewat pintu dan jendela. Adanya sinar matahari membuat nuansa tua yang tercipta dari kondisi bangunan serta udara yang lebih lembab dan dingin akan langsung menyergap.

Jika menuju salah satu ruang di bagian tenggara dan barat daya bangunan dan menatap ke atas, anda bisa melihat sebuah lubang yang cukup lebar. Dari lubang itulah raja-raja yang hendak berburu menuju ke lantai dua (berguna sebagai tempat berburu) dengan dibantu sebuah tangga kayu yang kini sudah tidak dapat dijumpai lagi. Dengan menatap ke atas pula, anda bisa mengetahui bahwa terdapat sebuah atap untuk menaungi lubang yang kini telah ambruk, mungkin berguna untuk mencegah air masuk.

Sekilas, bangunan ini menggambarkan kenyamanan yang diperoleh raja, bahkan saat berburu. Ketinggian bangunan membuat raja berburu dengan rasa nyaman dan aman, leluasa mengintai tanpa perlu khawatir diserang oleh hewan buas ketika berburu. Lantai dua tempat ini pun cukup nyaman, berupa ruangan terbuka yang cukup luas dan dibatasi oleh pagar berlubang dengan ketinggian sedang.

Ketinggian bangunan ini menyebabkan beberapa orang menduga bahwa Panggung Krapyak juga digunakan sebagai pos pertahanan. Konon, dari tempat ini gerakan musuh dari arah selatan bisa dipantau sehingga bisa memberikan peringatan dini kepada Kraton Yogyakarta bila terjadi serangan. Para prajurit secara bergantian ditugaskan untuk berjaga di tempat ini, sekaligus berlatih berburu dan olah kanuragan (kemampuan berperang).

Panggung Krapyak termasuk bangunan yang terletak di poros imajiner kota Yogyakarta, menghubungkan Gunung Merapi, Tugu Jogja, Kraton Yogyakarta, Panggung Krapyak dan Laut Selatan. Poros Panggung Krapyak hingga Kraton menggambarkan perjalanan manusia dari lahir hingga dewasa. Wilayah sekitar panggung melambangkan kehidupan manusia saat masih dalam kandungan, ditandai dengan adanya kampung Mijen di sebelah utara Panggung Krapyak sebagai lambang benih manusia.